Pengelolaan Sampah Organik Menjadi Pupuk Cair

  • Admin Bulelengkab
  • 23 Mei 2016
  • Dibaca: 1027 Pengunjung

Singaraja | Untuk menghijaukan Bumi, salah satu cara adalah peduli terhadap sampah di sekitar kita. Cara ini akan cukup efektif untuk melestarikan dan membersihkan lingkungan sekitar karena penanggulangan sampah memang harus mulai dari diri, lalau lingkungan sekitar kita.

Komunitas Bali Harmoni juga punya cara yang unik untuk membebaskan lingkungan dari tumpukan sampah lalu membuatnya menjadi barang yang bermanfaat untuk penghijauan.

Salah satu anggota Bali Harmoni, Wayan Ariawan, sampah-sampah organik bisa dikumpulkan untuk dijadikan pupuk organik dalam bentuk pupuk cair.

“Tetapi untuk sampah plastik kita memang belum temukan cara. Tapi upaya kami, kumpulkanlah semua sampah yang berserakan dilingkungan kita, lalu pilah organik dan non organik. Sampah organik ini bisa kita jadikan pupuk yang berguna dengan alat tabung komposer. Sampah plastik kita kumpulkan supaya tidak membuat jorok lingkungan,lalau kita serahkan ke pengepul untuk diolah kembali dengan ramah lingkungan pula,” Ujar Ariawan di rumahnya di Desa Kaliasem.

Menurut Ariawan, tabung komposer ini sebenarnya bisa dibuat sendiri secara sederahana dengan ember bekas, atau yang lain. Tetapi selama ini, Dia mendatangkan tabung komposer dari daerah Jawa. Tabung komposer ini bisa digunakan untuk mengumpulkan sampah organik menjadi pupuk cair tadi.

Untuk membuat sampah organik dari tabung composer ini pun cukup mudah. Masukkan sejumlah serabut kelapa ke dalam bagian terbawah di dalam tabung. Lalu masukkan pula batang pisang didalamnya. Keduanya berfungsi untuk menyerap cairan.

Setelah itu, barulah memsukkan sampah-sampah organik, atau sampah rumah tangga ke dalam tabung komposer. “Setiap kali memasukkan sampah, kita semprotkan bioakitivator. Bioaktivator ini kami buat sendiri. Lalu tutup tabung composer itu. Nah, tunggu tujuh hari sampai sepuluh hari akan muncul cairan-cairan. Cairan ini nanti difermentasikan,” terang Ariawan.

Fermentasi dengan perbandingan 1 liter cairan dari sampah organik dengan 10 liter air beras, 15 liter air serta 0,5 kilogram gula putih serta 1 kilogram gula merah. Fermentasi selama 14 hari, setelah fermentasi, maka cairan tersebut sudah bisa dijadikan pupuk organik.

“Setidaknya, bisa digunakan untuk menyiram tanaman di rumah. MIsalnya di rumah menanam tanaman cabe dari pot kecil, lalu siram dengan pupuk cair ini. Saya kira cukup bermanfaat untuk penanggulangan sampah dalam skala kecil. Untuk menggunakan pupuk cair ini bisa juga dicampur. Satu liter pupuk organic cari berbanding dengan 15 liter air. Jadi cukup efisien.” ujar Ariawan.

Ariawan mengatakan menanggulangi sampah sebenarnya sangat mudah bila ada kemauan. Harus dimulai dari diri sendiri dulu untuk mengurus sampah disekitar lingkungan kita. Dalam skala besar, memang harus bergotyong royong, semua elemen perlu untuk bergerak.

Namun, kata Ariawan sistemnya juga harus baik. Ariawan mengkritik pola penanggulangan sampah yang dilakukan oleh Pemkab Buleleng dengan menempatkan sejumlah bak sampah dipinggir-pinggir jalan.

“Itu justru sebenarnya menambah masalah. Seringkali saya melihat bak sampah itu kadang penuh, menimbulkan bau. Kalau ada angin atau hewan pasti terkadang berserakan kembali di jalan. Warga yang membuang sampah juga cuek, menaruh dibawah atau hanya asal lempar saja. Turis di Lovina sering mempertanyakan kondisi ini. Saya kira, niat baik Pemerintah untuk membabaskan Buleleng dari sampah harus dengan cara yang lebih baik juga.

Share Post :