(0362) 24346
camatbuleleng@gmail.com
Kecamatan Buleleng

PANGRUPUKAN: ADAB MENGHARMONISKAN ALAM MELALUI TAWUR, MENGUBAH ENERGI NEGATIF MENJADI ENERGI POSITIF

Admin buleleng | 17 Maret 2026 | 681 kali

Pangrupukan: Adab Mengharmoniskan Alam melalui Tawur, Mengubah Energi Negatif Menjadi Energi Positif

Dalam rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi, terdapat satu tahapan penting yang sarat makna spiritual, yaitu Pangrupukan. Hari ini dilaksanakan sehari sebelum Nyepi, sebagai bentuk upaya manusia menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara diri, alam, serta kekuatan semesta. Pangrupukan bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah adab spiritual untuk menata kembali harmoni kehidupan.

Salah satu inti dari Pangrupukan adalah pelaksanaan tawur atau persembahan yang dipersembahkan kepada alam semesta. Melalui tawur, umat manusia menyampaikan penghormatan kepada unsur-unsur alam serta kekuatan tak kasat mata yang dipercaya turut mempengaruhi keseimbangan kehidupan. Persembahan ini menjadi simbol kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan berada dalam jaringan kosmis yang saling terhubung.

Dalam perspektif spiritual Bali, Pangrupukan juga dimaknai sebagai proses penyucian energi. Segala bentuk energi negatif—baik yang berasal dari pikiran, perilaku manusia, maupun dinamika alam—diharapkan dapat dinetralisir melalui ritual dan doa yang dipanjatkan. Tawur menjadi media simbolik untuk mentransformasikan energi tersebut, sehingga yang tersisa adalah energi yang lebih harmonis dan positif.

Selain tawur, masyarakat juga mengenal tradisi pawai Ogoh-ogoh yang diarak pada malam Pangrupukan. Ogoh-ogoh melambangkan sifat-sifat buruk atau kekuatan negatif yang ada dalam diri manusia maupun di alam semesta. Ketika ogoh-ogoh diarak dan kemudian dimusnahkan, hal itu merepresentasikan proses pelepasan sifat-sifat negatif serta harapan agar kehidupan dapat kembali berada dalam keseimbangan. (PPID Kec Buleleng).